October 21, 2011

#14

"Fear not for the future, weep not for the past."
(Percy Bysshe Shelley)

Dua hal itu, membuatku terus belajar untuk tidak melihat masa lalu sebagai penyesalan dan semua yang akan terjadi di masa depan sebagai the great unknown. Kembali mencoba merefleksikan apa yang akhir-akhir ini telah didapat. Sepenggal kisah tentang ketakutan di masa depan, hingga akhirnya berujung menyerah sebelum mencoba. Ketakutan tentang masa depan. Iya, menurutku, mungkin, seperti menerawang apa yang ada dibalik sebuah tembok besar dan memikirkan hanya hal-hal jelek yang mungkin ada di balik tembok besar itu. Nah, saat itu juga rasa takut mulai membutakan, sehingga tidak lagi melihat adanya kemungkinan-kemungkinan lain. Tidak hanya itu, ketakutan juga mulai melunturkan sampai akhirnya menghilangkan keyakinan untuk bisa melewati tembok besar tersebut.

Ketakutan akan ketidakpastian masa depan mungkin saja terjadi, namun jangan gunakan ketakutan itu mengalahkan mimpi-mimpimu. Apalagi mengubahmu menjadi inferior dan pesimis. Apa yang harus dilakukan saat rasa takut itu muncul? Menurutku, yang pasti sebelum menyesal, jangan gunakan ketakutanmu sebagai dasar untuk mengambil suatu keputusan. Kamu hanya perlu menjadikan mimpimu sebagai penuntun, untuk menyusun masa depanmu mulai sekarang. Percaya pada dirimu dan Tuhan pasti membantu. Tidak perlu lagi kukisahkan tentang keberhasilan karena percaya pada diri sendiri dan Tuhan kan? Sudah beribu yang membahasnya.

"You block your dream when you allow your fear to grow bigger than your faith."
(Mary Manin Morrissey)

Ingatlah, sebuah hal sederhana, bagaimana jika ternyata ketakutan itu tidak benar? Karena itu kita mengenal kemungkinan.

"The future is called: perhaps, which is the only possible thing to call the future. And the only important thing is not to allow that to scare you."
(Tennessee Williams)

Masa depan memang penuh dengan kemungkinan yang tidak terbatas. Ketika, kita hanya fokus pada kemungkinan yang mungkin tidak menguntungkan dan tidak sesuai harapan, maka itu disebut dengan ketakutan. Apabila kita fokus pada kemungkinan yang sebaliknya, yang kita harapkan, maka itu disebut dengan bebas dari rasa takut. Jadi, pilihan itu ada di kamu sendiri sendiri kan? Silahkan pilih mana yang lebih membuatmu hidup, takut atau bebas dari rasa takut?

"Fear is the mind-killer."
(Frank Herbert)

2 comments:

superpikar said...

ini sindrom yang banyak dialami para wisudawan, setelah lulus mau kemana? ada banyak pilihan, jangan sampai pilihan yang ada membuat bimbang hingga akhirnya timbul ketakutan tidak bisa mencapai impian. tetap semangat.

Inda Nurfarida said...

siap om siap :D

Post a Comment